Kamis, 15 Oktober 2015

Sang Putri (Legenda Putri Junjung Buih)

Part 01


Oleh: Mutia Hafiza


Hari ini adalah hari pertamaku di kelas XI IPA 1. Aku sungguh tidak menyangka aku mampu masuk jurusan IPA, jurusan yang dianggap cukup ketat saingannya untuk dimasuki dan dianggap sebagai kelas kumpulan siswa pintar. Bukan karena aku tidak pintar, bukan. Aku memiliki otak yang cukup cemerlang, meski tidak secemerlang Steve Jobs. Jadi sebenarnya aku cukup percaya diri untuk memulai pelajaranku hari ini. Tapi lihatlah, kelas ini lebih memilih siswanya berdasarkan latar belakang keluarganya, bukan karena kepintarannya. Ya, bagiku ini adalah kelas elit. Mungkin kelas terelit di kota Intan. Hampir semua anak di kelas ini hidup dalam kemewahan orang tuanya.
Pada ujian akhir semester kemarin, aku mendapat ranking sembilan, hanya sembilan. Entah karena aku yang semakin bodoh atau teman-teman sekelasku yang memang semakin pintar setiap harinya. Dulu sewaktu sekolah dasar, cukup mudah bagiku untuk mendapat ranking satu di kelas. Mencatat pelajaran dengan rapi, mengerjakan PR dengan baik, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan selalu mendapat nilai sempurna setiap ulangan, sudah cukup bagiku untuk mendapat peringkat teratas. Tapi di sekolah ini, semua tidak berlaku.
Sudah bukan zamannya lagi guru memberikan catatan atau memberikan PR, karena sekarang guru lebih suka memberi tugas (yang sebenarnya juga menjadi PR karena kami harus mengerjakannya di luar jam sekolah). Bayangkan saja, untuk pelajaran Biologi misalnya, setiap pertemuan kelas kami pasti akan membahas soal-soal yang ada di LKS (Lembar Kerja Siswa). Setiap siswa akan maju ke depan kelas secara bergiliran untuk menulis jawabannya di papan tulis. Mereka yang tidak bisa menjawab, dianggap tidak mengerjakan dan tidak akan mendapat nilai. Hal ini selalu berulang setiap pertemuan. Alhasil, kami selalu berupaya untuk mencari jawaban soal-soal itu, bagaimanapun caranya.
Karena guruku juga menerapkan hal yang sama pada kelas lain, akhirnya mereka yang menghalalkan segala cara, bertukar LKS yang sudah ada jawabannya. Jika dikelas X1 selesai, maka akan dipinjam kelas X2. Jika  kelas X2 selesai, maka kemudian kelas X1 yang meminjamnya. Begitu seterusnya. Dan tahukah kau asal muasal jawabannya? Haha, dari kakak kelas. Ternyata dari zaman dunia api menyerang, guruku tersebut sudah melakukan hal yang sama, dengan LKS yang sama pula. Jadi jawabannya pun juga sama alias turun temurun. Bahkan saking samanya, kebanyakan siswa hanya tinggal menyontek jawabannya tanpa tahu apa pertanyaannya. Sungguh miris, dan aku sungguh merasa tidak adil. Aku berusaha untuk tidak melakukan hal yang sama karena bagiku itu memalukan. Aku berupaya untuk memperoleh jawabannya dari buku-buku yang ada di perpustakaan. Tapi mungkin guruku tidak menilai asal mula jawabannya, apakah dari buku langsung atau hasil contekan. Karena pada akhirnya, mereka-mereka itulah yang justru memperoleh ranking di atas ku.
Terkadang aku iri dengan Lisa, si rangking satu dari kelas X1, yang kini menjadi teman sekelasku. Ini adalah kali kedua dia mendapat rangking satu semenjak masuk di SMA ini. Dia memiliki semua buku pelajaran. Dia bahkan memiliki buku pegangan yang sama dengan buku pegangan guru-guru ku. Tidak hanya itu, dia juga memiliki fasilitas sekolah yang lengkap. Android, tab, laptop, alfalink, bahkan kalkulator tercanggih pun dia punya. Hanya tinggal meminta pada orang tuanya, yang seorang pejabat pemerintah, apapun keinginannya pasti dikabulkan.
Berbeda jauh denganku. Aku hanya bisa meminjam maksimal dua buku selama tiga hari dari perpustakaan. Jika lewat dari batas waktu, aku akan kena denda seribu perhari. Uang sakuku sedikit, jadi aku selalu menghindari pembayaran yang tidak perlu. Tentu aku harus mengembalikan  buku itu tepat waktu. Barang tercanggih yang ku miliki hanyalah handphone nokia butut yang aku beli dengan uang hasil santunan lomba olimpiade kimiaku tahun lalu. Ayahku hanya seorang penjual bakso dan mie ayam kecil-kecilan. Penghasilannya tidak seberapa. Ibuku yang hanya menjual kue, juga hanya bisa membantu sedikit. Untuk kebutuhan sehari-hari saja orangtuaku benar-benar harus menghematnya agar cukup. Ditambah lagi mereka juga harus membiayai sekolah kedua adikku yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Bagaimana mungkin aku minta dibelikan ini dan itu. Beruntung sekali Lisa, kebutuhannya selalu saja tercukupi. Wajar saja dia selalu mendapat rangking satu.
Terkadang jika aku membandingkan kehidupanku dengan Lisa, aku merasa hidup ini tidak begitu adil.

* * *

Saat pertama masuk kelas, aku bingung mau duduk di bangku yang mana. Ini masih jam 7, baru jam 7 pagi. Masih ada waktu setengah jam sebelum pelajaran pertama dimulai. Tapi kelas ini sudah sangat ramai dan ricuh. Astaga, aku lupa mengenai tradisi memilih “tempat strategis” untuk satu tahun ke depan. Setiap kenaikan kelas, anak-anak pasti berebut memilih kursi yang dianggap paling menguntungkan untuk mereka belajar, atau tepatnya untuk “mencari nilai”. Lihat, hampir semua tempat duduk sudah terisi. Bangku yang tersisa hanyalah dua bangku angker yang terkenal itu.
Ada dua bangku angker di setiap kelas, yaitu bangku paling belakang sebelah kiri, dan bangku paling depan yang posisinya tepat di depan meja guru. Bangku angker pertama, jelas saja bangku itu masih kosong. Tidak ada yang mau duduk di sana. Siapa saja siswa yang duduk di sana pasti sering kena lempar batu kapur tulis. Ya iyalah, tempat itu suasananya membuat mata mengantuk. Semua siswa yang duduk di sana selalu saja ketiduran. Sedangkan meja paling depan alias meja angker kedua, meja yang langsung berhadapan dengan meja guru, membuat siswa selalu tegang, salah tingkah, dan harus selalu memasang tongkat di mata kalo guru lagi ceramah panjang lebar. Mana ada yang tahan dengan posisi itu selama satu tahun. Tapi apa boleh buat. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih bangku angker yang paling depan itu saja. Toh, ini bukan pertama kalinya aku duduk di tempat yang sama.
Aku mencoba untuk duduk, dan tepat seperti dugaanku.
“Ngek, ngek, ngek…”
 Astaga, bangku ini bahkan hidupnya sudah hampir di ambang batas. Haruskah besok aku membawa paku dan palu untuk memperbaikinya? Bagaimana mungkin bangku ini bertahan selama satu tahun? Jika beratku bertambah satu kilo saja, bangku ini pasti akan ambruk. Atau, jika aku membuat gerakan yang salah, paku-pakunya pasti akan terlepas semua. Bagaimana mungkin pihak sekolah masih membiarkan bangku ini di kelas? Apa bagi mereka ini masih layak pakai? Apakah masih kurang sumbangan tahunan yang dibayarkan siswa agar setidaknya sekolah bisa membeli satu bangku kayu yang baru? Payaaaah…
Aku bangkit dari bangku reyot itu dan mulai menariknya menuju belakang kelas. Aku berencana untuk menukarnya dengan kursi paling belakang, toh di sana belum ada yang menempati. Setelah dilihat-lihat, kondisi kursinya pun masih jauh lebih bagus dari pada yang ku punya. Jadi kutarik kursi baru itu dan ku ganti dengan kursi reyot yang ku bawa. Tapi, belum sempat ku beranjak, tiba-tiba langkahku terhenti karena seseorang memegang kursi itu dan mencegahku untuk membawanya.
“Aish, ini bangkuku. Jangan dibawa!”, sambil memegang kursi itu.
“Bangku kamu? Sejak kapan? Ini bangku sekolah”.
“Kembalikan bangku itu ke tempat semula”, sambil melihatku tajam.
“Bukannya tadi kamu duduk di depan? Bangku ini kan kosong, jadi boleh dong aku tukeran bangku?”
“Kubilang kembalikan!”, sambil menarik bangku itu hingga terlepas dari jangkauanku.
“Astaga. Kamu kan sudah duduk di depan. Jadi duduk aja di depan. Di sini masih kosong jadi aku mau menukar bangkunya sama bangku ku ini. Kamu ga liat apa bangku ku reyot gini?” sahutku protes.
“Aku pindah ke sini. Aku males duduk di depan sampingan sama kamu. Ti-dak-me-ngun-tung-kan”, jawabnya tajam.
“Apa???? Aiiiisssh, dasar..!!”
Aku benar-benar kesar. Aku segera beralih sambil menyeret bangku reyot itu kembali ke meja ku, tanpa memandangn si bocah tengik itu sedikit pun. Aku menataletakkan bangku reyot di mejaku, sambil menggumam, memprotes tindakannya.
“Memangnya kelas ini punya dia apa? Atau sekolah ini punya kakek buyutnya? Aiissh, menyebalkan sekali. Ga bisa apa sekali-sekali mengalah sama anak cewek? Masa besok aku beneran bawa paku dan palu untuk memperbaiki bangku ini. Aissshhh… dasar Hafiz menyebalkan. Ga ada dewasa-dewasanya. Selalu saja seenaknya. Mentang-men-tang… Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!”
Aku menjerit dan langsung bangkit dari bangku lalu mengibas-ngibaskan tanganku ke segala arah. Geli, jijik, dan kurasakan tubuhku gemetar. Mantap. Binatang kecil, bersayap, dan berwarna coklat itu berhasil membuatku jantungan di pagi ini. Bagaimana tidak, satu keluarga kecoa ada di dalam laciku. Ada tiga ekor, mungkin ayah, ibu, dan anaknya. Mereka beranak pinak di situ. Seorang siswa yang tak bertanggungjawab pasti telah membuatkan mereka rumah yang sangat nyaman bagi mereka dengan meninggalkan banyak sekali sampah di laciku. Lihatlah, karena kecoa ini aku membuat teman satu kelasku tertawa terbahak-bahak. Dan selamat, mulai sekarang aku akan menjadi bahan lelucon mereka. Huh, kesal.
Aku memukul-mukul mejaku, memastikan bahwa kecoa di dalam laci sudah habis. Lalu aku keluarkan semua kertas, plastik, kemasan snack, dan segala benda aneh yang ada di dalamnya. Akhirnya satu bak sampah penuh dengan sampah-sampah penyebab kecoa itu beranak pinak.
Kulirik jam yang ada di tanganku. Masih ada waktu sekitar lima menit sebelum lonceng berbunyi. Aku beranjak meninggalkan kelas untuk membuang sampah ke tempat pembuangan akhir yang ada di belakang sekolah. Jaraknya lumayan jauh, tapi jika aku bergegas, aku tidak akan telat masuk kelas. Aku tidak mungkin membiarkan bak sampah ini penuh karena bu guru pasti akan menegur seluruh kelas nantinya.
Sekolah ini tidak terlalu luas. Halamannya pun hanya sebesar dua kali lapangan basket. Hanya saja rute yang aku lalui untuk menuju pembuangan akhir sangat jauh. Tempatnya berada di paling ujung sekolah. Seandainya hukum phytagoras dapat digunakan di situasi seperti ini, mungkin aku tidak perlu berjalan menyusuri lorong-lorong kelas.
Aku tidak begitu suka berjalan di lorong ketika ada banyak siswa di luar kelas. Aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk tampil di hadapan mereka semua. Sekolah ini penuh dengan anak-anak elit. Dilihat dari pakaiannya dan semua barang yang mereka bawa ke sekolah, sudah menunjukkan bahwa itu adalah barang-barang mewah dan mahal. Aku tidak habis pikir, sebenarnya apa tujuan mereka memakai hal semacam itu. Apakah mereka pikir sekolah ini fashion show? Apakah mereka tidak takut diculik setelah pulang sekolah?
Kelakuan mereka yang seperti itulah yang membuat ada nya jurang pemisah antara siswa kaya dan miskin. Banyak anak-anak susah sepertiku merasa minder  untuk berteman dengan mereka. Gaya hidup yang juga mempengaruhi gaya bicara mereka, sering membuat kami malu. Tak terkecuali aku. Memang, aku hanya memakai baju yang sudah ditambal sulam karena sudah sobek beberapa kali. Aku juga memakai sepatu yang sudah berapa kali dilem, dan aku memakai tas yang talinya hampir putus. Hanya dengan melihat siswa miskin yang melintas sekilas, pasti akan menjadi bahan perbincangan mereka. Bajunya, sepatunya, tasnya, atau apapun yang bisa mereka bandingkan. Aiiisshh, apa yang mereka pikirkan. Bukankah barang mewah itu juga hanya pembelian orangtuanya? Sejatinya, mereka pun hanya orang miskin sejak lahir.

* * *

Aku mempercepat langkahku dan bergegas melempar kantong sampah ke tempatnya. Aku mulai beranjak meninggalkan tempat itu. Baru dua tiga langkah aku berjalan, langkahku terhenti. Tiba-tiba, ada yang memanggil namaku.
Mutia
Aku langsung berpaling ke arah suara itu. Aku merasa bahwa suara itu berasal dari pembuangan sampah atau mungkin dari dalam toilet. Aku mencoba mendekati dan mengitari pembuangan sampah itu. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Aku memberanikan diri untuk melihat lebih dekat toilet yang terlihat angker itu. Tapi di sana juga tidak ada siapa-siapa. Aneh.
“Mungkin aku salah dengar.”
Aku berpaling dan mulai beranjak pergi. Tapi, tiba-tiba suara itu kembali terdengar.
Mutia
Aku langsung berpaling ke arah toilet. Aku yakin bahwa suara yang memanggilku berasal dari sana. Tapi lagi-lagi, tidak ada siapa-siapa di sana. Aku membayangkan yang tidak-tidak, fikiranku menjadi tidak jernih. Mungkinkah yang memanggilku adalah hantu penunggu toilet itu? Tidak, tidak mungkin. Hantu itu tidak ada. Aku tidak percaya. Tapi siapa yang memanggilku? Tidak ada siapa-siapa di sana. Aku habis akal, entah siapa atau apa yang memanggilku.
Nafasku mulai tidak beraturan. Jantungku berdetak semakin kencang. Aku gugup, gemetar, dan kakiku merasa lemas sekali. Aku berusaha berjalan dan menjauh dari sana. Berjalan perlahan dan akhirnya aku bisa berlari menuju koridor kelas. Saat melewati pintu kelas XII IPS 1, ada seorang siswa yang tiba-tiba keluar dan hampir saja ku tabrak karena saking cepatnya aku berlari.
“Woi, woi, santai, De”, kata siswa itu sambil menahan lenganku karena aku mulai oleng akibat berhenti mendadak.
“Maaf kak, maaf. Saya ga sengaja”, sahutku sambil membungkukkan kepala dan badanku sebagai bentuk permohonan maaf.
“Iya gapapa. Lain kali hati-hati ya, De. Gau sah lari-lari kayak anak kecil gitu” katanya menasehati.
“Iya Kak, sekali lagi maaf. Saya permisi dulu” pintaku pamit.
“Iya, hati-hati”, sahutnya sambil tersenyum.
Astaga, apa-apan sih aku tadi. Hampir aja aku menabrak Kak Gofar, si ketua OSIS yang pintar, ganteng, baik, dewasa, dan murah senyum itu. Dia selalu mendapat rangking satu di kelas. Dalam berorganisasi, dia selalu suka mendengarkan pendapat teman-temannya dan menerima kritikan dengan baik. Dia tidak pernah marah jika usulannya ditolak atau ada kritikan pedas setelah acara OSIS berlangsung. Dia selalu menjadikan itu semua sebagai pelajaran dan menyemangati teman-temannya agar berusaha lebih baik lagi. Akhirnya terbukti bahwa kegiatan demi kegiatan, hasilnya semakin dikritik positif dari pihak sekolah. Tidak heran jika tahun ini dia kembali terpilih menjadi ketua OSIS untuk kedua kalinya, meski dia juga sudah harus lebih fokus menghadapi ujian kelulusan tahun ini.
Tentunya karena Kak Gofar cukup ganteng, akhirnya banyak sekali siswi-siswi yang naksir dia. Tidak hanya teman sekelas, tapi juga adik kelas dan kakak kelas, teman seorganisasi maupun diluar organisasi. Apalagi kalo lagi pas Hari Valentine, dialah siswa yang paling banyak dapat coklat dan bunga. Hal itu sering membuat teman-temannya iri. Namun dia sering menolak secara halus karena katanya dia tidak merayakan hari semacam itu. Mungkin karena ajaran agama di keluarga sangat melekat didirinya dan hal itu membuat siswi-siswi lain semakin memuja dirinya.
Bayangkan saja jika tadi aku berhasil membuatnya terjatuh, bisa saja kan bajunya jadi kotor atau dahinya berdarah. Bisa-bisa aku dipukuli siswi satu sekolah. Ya ampun, ceroboh sekali. Aku bahkan merasa malu sekali saat dia menasehatiku dan mengatakan kalau aku seperti anak kecil. Ditambah lagi, ada beberapa sorot mata yang melihat ke arah kami berdua tadi. Seperti ada pasukan burung elang yang sedang bersiap-siap menerkam anak ayam. Sungguh menakutkan, bahkan lebih menakutkan dari pada suara yang memanggilku tadi.
Oiya, suara itu. Aku teringat dengan suara itu. Benarkah ada yang memanggilku tadi? Tapi siapa yang memanggilku? Perempuankah? Atau laki-laki kah? Entahlah, suaranya samar-samar. Aku pun tidak melihat siapa-siapa. Mungkinkah aku hanya menghayal karena aku terlalu takut dengan toilet angker itu.
Karena aku memikirkan banyak hal, tak sadar aku berjalan terlalu lamban. Bel berbunyi 3 kali, menandakan jam pelajaran telah dimulai. Aku bergegas dan mempercepat langkah menuju kelas. Di depanku sudah ada Bu Endang, guru wali kelasku, sedang berjalan menuju kelasku juga. Aku tak mungkin mendahului langkahnya dan akhirnya aku hanya bisa mengiringinya dari belakang. Namun ketika sampai di depan pintu kelas, beliau berpaling dan menyadari bahwa aku di belakangnya.
“Silakan masuk duluan”, ujar Bu Endang padaku.
“Baik, Bu”, sahutku.
Aku langsung berjalan cepat menuju bangkuku. Lita langsung berbisik padaku.
Aku langsung merapikan posisi dudukku, lalu menghadap ke depan, atau lebih tepatnya menghadap meja Bu Endang.
 “Akhirnya kalian sudah kelas XI. Sudah setahun kalian bersekolah di sini. Mungkin ada yang kembali terkumpul dalam satu kelas dan mungkin ada pula yang tidak. Seperti Lita, Lisa, dan Heru kalian sekelas lagi kan? Ridho, mungkin kamu saja sendiri di sini yang dari kelas X-5?” Tanya Bu Endang.
“Iya, Bu”, sahut mereka serempak.
“Tidak apa-apa. Intinya adalah tidak masalah kalian masih sekelas atau tidak. Yang terpenting adalah kalian sekarang sudah satu kelas, kalian telah menjadi keluarga baru, sahabat baru, teman baru bagi kalian semua. Kalian harus saling menghormati, menjaga, menasehati, dan peduli satu sama lain. Kalian boleh bersaing dalam hal positif, dalam hal pelajaran, tapi dengan cara yang sehat tentunya. Jangan pernah bertengkar apalagi membuat keributan. Jika ada kesalahpahaman di antara kalian, bicarakanlah dahulu satu sama lain secara baik-baik. Jika tidak ada titik temu, bicarakanlah pada ibu, pasti akan ibu bantu meluruskan. Boleh tidak tegur sapa maksimal selama 3 hari, dengan tujuan menjernihkan fikiran dan menenangkan suasana. Tapi ingat setelah itu bicarakan lagi dan berbaikanlah. Paham?” kata Bu Endang.
“Paham, Bu”, sahut kami serempak.
“Waduuuh, mantap kata-kata Bu Endang”, ujar Izul menambahi.
“Hahaha.. Terima kasih Izul. Tapi yang membuat mantap bukan kata-katanya tapi pemahaman kalian akan kata-kata ibu yang baru ibu ucapkan tadi. Kalian kan sudah bukan anak-anak lagi, kalian adalah remaja yang mulai beranjak dewasa. Seumuran kalian ini rentan dengan hal-hal yang bersifat persaingan. Karena itu ibu ingatkan mulai sekarang dan semoga hal ini selalu kalian ingat dan tekankan baik-baik. Mengerti?” tambah Bu Endang.
“Mengerti, Bu”, sahut kami sambil bertepuk tangan.
Suasana kelas pun berubah menjadi ramai dan lebih santai.
“Sudah, sudah. Sekarang ibu ingin kalian berdiskusi untuk menyusun organisasi kepengurusan kelas XI IPA 1. Dimulai dari Ketua Kelas, Wakil Ketua Kelas, dan lainnya. Tapi sebelum itu, mungkin lebih baik kalian saling memperkenalkan diri. Silahkan, dimulai dari Nina”, kata Bu Endang sembari melihat siwa yang ada di paling ujung.
 “Nama saya Nina Febriani, biasa dipanggil Nina. Saya lahir di Amuntai, 17 Februari 1991. Rumahku di Griya Permata No. 3A Martapura. Saya anak tertua dari tiga bersaudara. Saya berasal dari kelas X-2. Salam kenal”, kataku singkat.
“Bagus Nina. Tapi tidak perlu menyebutkan asal kelas. Ibu tidak ingin ada sukuisme nanti di sini. Yang lain juga ya. Sekarang lanjut Vita, kemudian Rio, dan begitu seterusnya”, kata Bu Endang sambil tersenyum.
Benar kata Bu Endang, tidak perlu lagi menyebut asal kelas. Nanti justru menimbulkan sukuisme berdasarkan asal kelas. Hal ini juga akan lebih parah lagi jika siswa terbanyak yang berasal dari satu kelas yang sama merasa bahwa golongan mereka adalah yang siswa yang paling pintar dan yang paling berkuasa di kelas ini. Perbedaan kekayaan saja sudah cukup nampak di kelas ini, tak perlu lagi ditambah dengan sukuisme asal kelas. Ah, Tidak. Semoga ini hanya kekhawatiranku semata.
Vita lalu langsung berdiri memperkenalkan diri. Belum selesai perkenalan yang dilakukannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas.
“Permisi, Bu. Maaf mengganggu sebentar.”
Ternyata Pak Opick yang mengetuk pintu itu, Pak Sekuriti sekolah kami yang badannya sangat subur, mungkin sesubur artis Ivan Gunawan. Pak Opick membawa pesan untuk Bu Endang dari Pak kepala sekolah. Bu Endang langsung menghampiri Pak Opick dan berbicara sebentar. Entah apa yang mereka bicarakan, suara mereka terlalu pelan untuk kami dengar. Sesaat kemudian, Bu Endang memberikan instruksi ke kami.
“Teruskan perkenalan kalian, Ibu mau keluar sebentar. Ingat, jangan ribut.”
“Baik, Bu”, sahut kami serentak.
Vita lalu melanjutkan perkenalan dirinya. Kemudian disusul dengan Rio, lalu teman sebelahnya, dan begitu seterusnya. Aku tidak terlalu memperhatikan dan mendengarkan perkenalan mereka. Sulit bagiku mengingat banyak hal dalam satu waktu. Memang, dari dulu kelemahanku adalah menghapal. Jangankan menghapal nama panjang mereka, nama panggilan mereka saja belum tentu dapat aku ingat semua. Hingga sampai pada giliran si rangking satu, Lisa, yang membuatku tertarik untuk mendengarkan lebih seksama dan mengenalnya lebih jauh.
“Nama saya Lisa Dwi Sagita, panggil saja Lisa. Saya anak kedua dari dua bersaudara. Saya lahir di Kandangan, 9 Januari 1991. Saya tinggal di Jalan Cempaka No 7C Martapura. Salam kenal” kata Lisa.
Ucapannya tegas, nyaring dan penuh rasa percaya diri. Hampir semua siswa-siswa di kelas ini tertegun mendengarnya. Dia bagaikan memiliki aura yang dapat menghipnotis kami semua.
“Lisa Dwi Sagita ya, Jalan Cempaka ya”, gumamku.
Jalan Cempaka merupakan salah satu halan di kota Martapura. Jalan ini terkenal karena komplek perumahan di sana adalah komplek perumahan elit. Orang-orang yang tinggal di sana pun adalah orang-orang pilihan kota ini. Bupati, pejabat pemerintah, pengusaha, dan orang-orang sukses lainnya. Jika kau sesekali melewati jalan itu, kau akan merasa seperti sedang berkunjung ke inggris. Tidak hanya karena semua rumah yang ada di sana megah dan mewah, tapi tatanan kompleks itu sungguh sangat tertata dan modern. Sejak kecil, aku sudah berangan-angan untuk tinggal di sana suatu hari nanti. Entah kapan akan terwujud, hingga sekarang aku masih mendiami rumahku yang kecil dan sesak itu.

* * *

Perkenalan dilanjutkan oleh siswa yang ada di sebelahnya. Siswa laki-laki yang pagi tadi mengejekku. Tubuhnya tinggi, tidak kurus dan tidak juga gemuk, berkulit agak coklat, berhidung mancung, dan aku akui dia cukup manis. Hanya saja dia sangat menyebalkan. Dia mulai berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. kemudian memperkenalkan diri dengan wajah sedikit mendongak ke atas.
Aku tak perlu mendengarkan perkenalannya. Aku tahu nama panjangnya, alamat rumahnya, berasal dari kelas mana, berapa saudaranya, dan aku bahkan tahu dia suka makan apa dan tidak suka makan apa. Kenapa? Karena ini adalah tahun kelima ku satu kelas dengannya. Ya, sejak kelas 1 SMP aku selalu satu kelas dengannya. Jadi, keributan pagi tadi bukan untuk pertama kalinya. Tapi untuk keseribusatu kalinya. Menyebalkan. Dia tidak pernah berubah. Kelakuannya masih saja seperti anak kelas 1 SMP.
Perkenalan sudah hampir selesai, tapi Bu Endang belum juga datang. Kelas sudah mulai ricuh, siswa yang memperkenalkan diri pun sudah tidak dihiraukan lagi. Bagi siswa seumuran kami, perkenalan semacam ini terlalu monoton. Perkenalan yang santai pada jam istirahat, atau sambil ngobrol dan bercanda pada jam kosong seperti ini, sebenarnya lebih tepat untuk kami. Akhirnya tiba giliranku memperkenalkan diri. Tapi karena kelas sudah terlanjur terlalu ramai, aku hanya memperkenalkan namaku saja. Toh tidak akan ada satu siswa pun yang memperhatikan. Semua siswa sudah sibuk dengan obrolannya masing-masing.
Rupanya dugaanku salah. Setidaknya ada satu orang yang memperhatikanku dari tadi. Seorang siswi yang duduk tepat di sebelah kiriku. Dia memberikan senyuman padaku dan ku balas senyumnya. Kini adalah gilirannya untuk maju ke depan kelas. Dia memperkenalkan diri dengan suara yang sangat lantang, yang cukup membuat satu kelas terdiam.
“Nama saya Lita, Lita Eka Sagita. Saya lahir di Kandangan, 9 Januari 1991. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Dan saya tinggal di Jalan Cempaka No 7C Martapura. Salam kenal semuanya”, ucapnya ramah.
Senyumannya manis, cantik, dan juga ramah. Bahkan ada yang memberikan tepuk tangan setelah perkenalan singkatnya. Haha, sepertinya Lita punya penggemar di kelas ini.
“Wah, pede skali kayaknya kamu. Ga ada gugup-gugupnya”, kataku pada sambil tersenyum.
“Emang apa yang harus digugupkan? Toh cuma perkenalan sama temen sekelas, bukan kenalan sama calon mertua. Hahahaha”, sahutnya bercanda hingga tertawa.
Dia baik dan ramah. Dia bahkan dengan santai berbicara dan bercanda denganku. Walau terlihat jelas aku dan dia memiliki latar belakang yang berbeda. Kemudian aku teringat beberapa hal dan aku langsung bertanya pada Lita.
“Ngomong-ngomong, kok nama panjang kamu sama dengan Lita sih? Trus, kalo aku ga salah ingat, rumah kamu juga satu komplek dengan dia. Keluargaan ya?”, tanyaku penasaran.
“Oh, itu.. hmm, aku dan Lisa kan kakak adik, kami saudara kandung. Dan kami kembar”, jawabnya santai.
“Hah, kembar???” jawabku kaget.
“Iya, kenapa?” tanya Lita dengan nada heran.
“Tapi… kalian… tidak…”
“Tidak mirip ya? Hahahaha”, selanya. “Memang. Dan semua orang bilang begitu. Tapi kami benar-benar kembar. Tapi tidak identik seperti kebanyakan orang”, ujarnya sambil tersenyum.
“Ooo, begitu ya. Memang tidak mirip sih, makanya aku ga nyangka, Lit. Hahaha”, kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Sebenarnya tidak hanya karena wajah mereka yang tidak mirip saja yang membuatku tidak percaya bahwa mereka kembar, tapi juga karena sifat dan pembawaan mereka yang berbeda. Lita terlihat sangat ramah, mudah bergaul dan suka bercanda. Aku pun tak segan pada Lita dan langsung merasa akrab dengannya. Sedangkan Lisa, hanya dengan melihatnya saja aku sudah merasa deg-degan, ada rasa takut, segan, dan merasa rendah di hadapannya. Atau mungkin aku merasa sangat tersaingi olehnya? Entahlah, perbedaan mereka sungguh terasa jauh bagiku.
Perkenalan sudah selesai, Bu Endang belum juga datang. Kelas mulai ricuh, siswa yang memperkenalkan diri pun sudah tidak dihiraukan lagi. Bagi siswa seumuran kami, perkenalan semacam ini terlalu monoton. Perkenalan yang santai pada jam istirahat, atau sambil ngobrol dan bercanda pada jam kosong seperti ini, sebenarnya lebih tepat untuk kami. Aku pun memilih berbincang-bincang dengan Lita. menceritakan apa yang terjadi saat aku buang sampah dan kecerobohanku yang hampir menabrak Kak Gofar.
“Hah, beneran kamu denger ada yang manggil kamu di situ?” sahut Lita dengan nada yang sedikit terkejut.
“Iya, beneran”, jawabku sambil menganggukkan kepala.
“Ih, serem banget sih. Jangan-jangan penunggu toilet angker itu?” kata Lita denga muka yang dibuat seperti sedang ketakutan.
“Ah, jangan nakut-nakutin gitu dong. Ntar aku ga berani buang sampah lagi”, kataku sambil cemberut.
“Hahaha, aku cuma bercanda. Mungkin aja kan kamu salah denger. Atau bisa juga itu suara angin yang menggerakkan benda apa gitu yang suaranya mirip dengan kata Mutia”, terang Lita menenangkan.
“Ya, bisa jadi sih. Aku udah parno duluan sih tadi. Makanya aku langsung lari. Apalagi kan toilet tu katanya memang ada penunggunya. Sering ada yang lihat bayangan-bayangan hitam gitu. Trus, hawa-hawanya emang sering bikin bulu kuduk merinding” sahutku.
“Itu ya memang karena toiletnya aja yang udah hitam dan kotor banget. Jelas aja ga pernah ada siswa juga yang mau ke sana. Heran juga kenapa tu toilet ga pernah dibersihin atau diperbaiki sekolah lagi. Padahal kalo emang ga terpakai lagi ya dirobohkan aja. Daripada jadi sarang hantu, sarang tikus, atau sarang lumut kaya gitu”, kata Lita nyerocos.
“Betul, betul, betul”, kataku dengan gaya si Ipin.
“Eh, tapi gimana sama Kak Gofar?” Tanya Lita membanting pertanyaan dengan antusias.
“Apanya yang gimana?”, tanyaku balik.
“Ya Kak Gofar. Dia nolong kamu kan? Trus, trus gimana?” tanya Lita antusias.
“Apanya yang “terus” sih? Aneh aneh aja deh kamu nanyanya”, jawabku mulai bingung dan salah tingkah.
“Ya ampun Mutia, jarang-jarang tau ada yang bisa buat dia perhatian sama cewek. Selama ini kan dia terkenal menjaga jarak sama cewek, cuma temenan sama cowok, kalo pun ada cewek itu pasti teman-teman seorganisasi atau teman sekelasnya doang. Dan ga pernah sampe pegang-pegang tangan segala”, sahut Lita nyerocos panjang lebar.
“Ga ada pegang-pegangan tangan, Litaaaa. Dia cuma menahan lengan aku biar aku ga jatuh pas mau nabrak dia. Semuanya ga sengaja, kejadiannya cepat banget. Udah ah, ga usah dibesar-besarin”, kataku menyangkal.
“Walaupun kayak gitu, liat aja nanti pas istirahat atau pulang sekolah, pasti banyak gossip yang beredar. Antara kamu sama si Kak Gofar. Maklum, dia kan bintang top sekolah” goda Lita.
“Ah, cuek aja. Emang ga ada apa-apa kok. Namanya juga ga sengaja”, kataku cuek.
“Alaaaaah, padahal muka kamu berubah jadi tomat juga kan, tadi kan, pas nabrak Kak Goffar? Iya kan? Hayo ngakuuu?” goda Lita lagi.
“Kaga”, jawaku simple.
“Masa? Siapa sih yang ga tertarik sama cowok kaya Kak Gofar gitu? Masa iya kamu ga tertarik sama dia. Beneran?” goda Lita lagi.
“Ngawur deh, udah ah ga usah ngomongin itu lagi” jawabku mulai kesal.
“Hihihi”, tawa Lita centil.
“Udaaahh… apaan sih”, kataku mulai meraju.
“Iya, iya. Hahahaha”, jawabnya tertawa.
“Tapi kok Bu Endang ga datang-datang ya?” kataku heran.
“Iya nih, kok lama ya. Udah kaya pasar ni kelas” tambah Lita. “Lihat tuh, si Hafiz and the genk juga mulai lagi tuh ribut-ribut menjahili Tian. Dasar ga ketulungan tu anak nakalnya”, geram Lita.
“Si Hafiz itu emang kayak gitu ya kelakuannya?”, tanyaku pada Lita.
“Hooh, dari dulu, sejak SD dia udah kayak gitu. Jahilnya kaga ketulungan”, sahut Lita santai.
“Oh, kamu sekelas sejak SD sama dia?” tanyaku setengah kaget.
“Iya, SD dan SMA. Dari kelas satu sampe kelas 6 aku sekelas terus sama dia. Kalo SMA baru ini sekelas. Jadi aku sih udah biasa ngeliatnya”, terang Lita lagi.
“Berarti Lisa juga”, tanyaku lagi.
“Yup”, balasnya singkat.
“Kalian satu keluarga ya?”, tanyaku makin penasaran.
“Yup, aku kembaran sama Lisa. Aku sepupuan sama Hafiz”, jawab Lita santai. “Ada lagi yang ditanyakan?”
 “Ooo begitu…”, sahutku mulai memahami tentang pegustian ini. “Trus, kenapa….”
“Sssttt… Bu Endang datang”, kata Lita menyudahi obrolan kami.
“Maaf, lama menunggu ibu. Sudah hampir jam istirahat. Tapi sebelumnya ibu mau perkenalkan satu anggota baru lagi di kelas ini”, kata Bu Endang setengah terengah-engah. “Putri, silahkan masuk”.
Sesaat kemudian, masukkah seorang siswi dengan langkah yang tegap namun santai. Tingginya sekitar 160 cm, tubuhnya langsing, kulitnya putih, wajahnya manis dan cantik, secantik artis ibu kota Dian Sastro. Aku terpukau melihatnya dan ternyata hal ini tidak hanya terjadi padaku. Seluruh kelas menjadi hening, mendadak seluruh siswa dan siswi di kelas ini teralih perhatiannya kepada siswi baru itu. Sekilas aku juga melihat, si Hafiz yang jahil itu, terdiam dan menatap lurus padanya. Oh, ternyata dia bisa terpesona juga pada seseorang.
“Putri adalah siswi pindahan dari Jakarta. Ayahnya pindah tugas ke Kabupaten Banjar. Jadi dia mengikuti orang tuanya pindah ke Martapura dan melanjutkan sekolah di sini. Putri, silakan perkenalkan diri kamu”, pinta Bu Endang.
“Iya, Bu. Terima kasih”, sahut si Siswi baru itu.
“Perkenalkan nama Saya Putri Anggun Mayangsari. Maaf, Gusti Putri Anggun Mayangsari. Saya pindahan dari SMAN Pelita Jaya Jakarta. Saya Lahir di Martapura, 7 Juli 1991. Saya anak tunggal, tidak memiliki saudara. Saya tinggal di Jalan Cempaka No 3B Martapura. Salam kenal semuanya”, katanya sambil tersenyum.
Melihat siswi baru itu tersenyum, bak sebuah hipnotis Romy Rafael, seisi kelas ikut tersenyum, membalas senyumnya. Tidak terkecuali aku. Ya ampun, dia sungguh sangat cantik dan menawan. Dia bagai sang putri kerajaan yang memberi titah, menebar kebaikan, dan menenangkan jiwa rakyatnya hanya dengan lewat senyumannya yang indah. Sungguh pembawaan yang sangat menakjubkan.
“Putri juga siswi yang sangat pintar. Nilai rapor nya sangat bagus, hampir semua mata pelajaran mendapat nilai sempurna. Berkenalanlah dengannya, dan bertemanlah. Siapa tahu kalian juga bisa menjadi siswi terbaik di sekolah ini, seperti Putri di sekolahnya dulu”, tambah Bu Endang.
“Baiklah kalo begitu. Silakan duduk”, balas Bu Endang.
Mata kami sempat bertemu dan kuberikan senyuman tipis padanya. Namun rupanya dia tidak membalas senyumku. Dia justru menatapku tajam selama beberapa detik. Aku terdiam, dan langsung mengalihkan perhatianku dan memainkan jemari tanganku. Ada apa dengannya? Bukankah tadi dia terlihat sangat ramah? Aku hanya ingin akrab atau setidaknya berteman dengannya. Bisa saja kan aku ketularan pintar dan rankingku menjadi lebih bagus. Apalagi dia seorang keturunan Gusti. Bisa saja dia melakukan yang dia mau kepada semua yang ada di kelas ini, terutama kepadaku.
Gusti, sebuah gelar yang diberikan kepada keturunan Kerajaan Banjar. Sejak zaman dahulu, para Gusti selalu dihormati dan disegani masyarakat Martapura, Kabupaten Banjar. Seorang Gusti kebanyakan memiliki sifat yang luhur, bersikap baik dan seorang muslim yang taat. Bahkan konon katanya, beberapa Gusti dianugerahi beberapa kemampuan spiritual yang tinggi. Entah benar atau tidak. Hal inilah mungkin yang membuat Bupati Kabupaten Banjar saat ini telah terpilih utnuk kedua kalinya karena beliau seorang Gusti yang dikenal arif nan bijaksana. Tapi benarkah itu? Kita lihat saja. Yang jelas, untuk satu tahun ke depan, aku akan sekelas dengan Putri yang ternyata seorang Gusti.

* * *

(bersambung...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar