Oleh:
Mutia Hafiza
Hari ini
adalah hari pertamaku di kelas XI IPA 1. Aku sungguh tidak menyangka aku mampu
masuk jurusan IPA, jurusan yang dianggap cukup ketat saingannya untuk dimasuki
dan dianggap sebagai kelas kumpulan siswa pintar. Bukan karena aku tidak
pintar, bukan. Aku memiliki otak yang cukup cemerlang, meski tidak secemerlang
Steve Jobs. Jadi sebenarnya aku cukup percaya diri untuk memulai pelajaranku
hari ini. Tapi lihatlah, kelas ini lebih memilih siswanya berdasarkan latar
belakang keluarganya, bukan karena kepintarannya. Ya, bagiku ini adalah kelas
elit. Mungkin kelas terelit di kota Intan. Hampir semua anak di kelas ini hidup
dalam kemewahan orang tuanya.
Pada
ujian akhir semester kemarin, aku mendapat ranking sembilan, hanya sembilan.
Entah karena aku yang semakin bodoh atau teman-teman sekelasku yang memang
semakin pintar setiap harinya. Dulu sewaktu sekolah dasar, cukup mudah bagiku
untuk mendapat ranking satu di kelas. Mencatat pelajaran dengan rapi, mengerjakan
PR dengan baik, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan selalu mendapat nilai
sempurna setiap ulangan, sudah cukup bagiku untuk mendapat peringkat teratas. Tapi
di sekolah ini, semua tidak berlaku.
Sudah
bukan zamannya lagi guru memberikan catatan atau memberikan PR, karena sekarang
guru lebih suka memberi tugas (yang sebenarnya juga menjadi PR karena kami
harus mengerjakannya di luar jam sekolah). Bayangkan saja, untuk pelajaran
Biologi misalnya, setiap pertemuan kelas kami pasti akan membahas soal-soal
yang ada di LKS (Lembar Kerja Siswa). Setiap siswa akan maju ke depan kelas
secara bergiliran untuk menulis jawabannya di papan tulis. Mereka yang tidak
bisa menjawab, dianggap tidak mengerjakan dan tidak akan mendapat nilai. Hal
ini selalu berulang setiap pertemuan. Alhasil, kami selalu berupaya untuk
mencari jawaban soal-soal itu, bagaimanapun caranya.
Karena
guruku juga menerapkan hal yang sama pada kelas lain, akhirnya mereka yang
menghalalkan segala cara, bertukar LKS yang sudah ada jawabannya. Jika dikelas
X1 selesai, maka akan dipinjam kelas X2. Jika
kelas X2 selesai, maka kemudian kelas X1 yang meminjamnya. Begitu
seterusnya. Dan tahukah kau asal muasal jawabannya? Haha, dari kakak kelas.
Ternyata dari zaman dunia api menyerang, guruku tersebut sudah melakukan hal
yang sama, dengan LKS yang sama pula. Jadi jawabannya pun juga sama alias turun
temurun. Bahkan saking samanya, kebanyakan siswa hanya tinggal menyontek
jawabannya tanpa tahu apa pertanyaannya. Sungguh miris, dan aku sungguh merasa
tidak adil. Aku berusaha untuk tidak melakukan hal yang sama karena bagiku itu
memalukan. Aku berupaya untuk memperoleh jawabannya dari buku-buku yang ada di
perpustakaan. Tapi mungkin guruku tidak menilai asal mula jawabannya, apakah
dari buku langsung atau hasil contekan. Karena pada akhirnya, mereka-mereka
itulah yang justru memperoleh ranking di atas ku.
Terkadang
aku iri dengan Lisa, si rangking satu dari kelas X1, yang kini menjadi teman
sekelasku. Ini adalah kali kedua dia mendapat rangking satu semenjak masuk di
SMA ini. Dia memiliki semua buku pelajaran. Dia bahkan memiliki buku pegangan yang
sama dengan buku pegangan guru-guru ku. Tidak hanya itu, dia juga memiliki fasilitas
sekolah yang lengkap. Android, tab, laptop,
alfalink, bahkan kalkulator tercanggih
pun dia punya. Hanya tinggal meminta pada orang tuanya, yang seorang pejabat
pemerintah, apapun keinginannya pasti dikabulkan.
Berbeda
jauh denganku. Aku hanya bisa meminjam maksimal dua buku selama tiga hari dari
perpustakaan. Jika lewat dari batas waktu, aku akan kena denda seribu perhari.
Uang sakuku sedikit, jadi aku selalu menghindari pembayaran yang tidak perlu.
Tentu aku harus mengembalikan buku itu
tepat waktu. Barang tercanggih yang ku miliki hanyalah handphone nokia butut yang aku beli dengan uang
hasil santunan lomba olimpiade kimiaku tahun lalu. Ayahku hanya seorang penjual
bakso dan mie ayam kecil-kecilan. Penghasilannya tidak seberapa. Ibuku yang
hanya menjual kue, juga hanya bisa membantu sedikit. Untuk kebutuhan sehari-hari
saja orangtuaku benar-benar harus menghematnya agar cukup. Ditambah lagi mereka
juga harus membiayai sekolah kedua adikku yang masih duduk di bangku SD dan
SMP. Bagaimana mungkin aku minta dibelikan ini dan itu. Beruntung sekali Lisa,
kebutuhannya selalu saja tercukupi. Wajar saja dia selalu mendapat rangking
satu.
Terkadang
jika aku membandingkan kehidupanku dengan Lisa, aku merasa hidup ini tidak
begitu adil.
* * *
Saat
pertama masuk kelas, aku bingung mau duduk di bangku yang mana. Ini masih jam 7,
baru jam 7 pagi. Masih ada waktu setengah jam sebelum pelajaran pertama
dimulai. Tapi kelas ini sudah sangat ramai dan ricuh. Astaga, aku lupa mengenai
tradisi memilih “tempat strategis” untuk satu tahun ke depan. Setiap kenaikan
kelas, anak-anak pasti berebut memilih kursi yang dianggap paling menguntungkan
untuk mereka belajar, atau tepatnya untuk “mencari nilai”. Lihat, hampir semua
tempat duduk sudah terisi. Bangku yang tersisa hanyalah dua bangku angker yang
terkenal itu.
Ada dua
bangku angker di setiap kelas, yaitu bangku paling belakang sebelah kiri, dan
bangku paling depan yang posisinya tepat di depan meja guru. Bangku angker
pertama, jelas saja bangku itu masih kosong. Tidak ada yang mau duduk di sana.
Siapa saja siswa yang duduk di sana pasti sering kena lempar batu kapur tulis.
Ya iyalah, tempat itu suasananya membuat mata mengantuk. Semua siswa yang duduk
di sana selalu saja ketiduran. Sedangkan meja paling depan alias meja angker
kedua, meja yang langsung berhadapan dengan meja guru, membuat siswa selalu
tegang, salah tingkah, dan harus selalu memasang tongkat di mata kalo guru lagi
ceramah panjang lebar. Mana ada yang tahan dengan posisi itu selama satu tahun.
Tapi apa boleh buat. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih bangku
angker yang paling depan itu saja. Toh, ini bukan pertama kalinya aku duduk di
tempat yang sama.
Aku
mencoba untuk duduk, dan tepat seperti dugaanku.
“Ngek, ngek, ngek…”
Astaga, bangku ini bahkan hidupnya sudah hampir
di ambang batas. Haruskah besok aku membawa paku dan palu untuk memperbaikinya?
Bagaimana mungkin bangku ini bertahan selama satu tahun? Jika beratku bertambah
satu kilo saja, bangku ini pasti akan ambruk. Atau, jika aku membuat gerakan
yang salah, paku-pakunya pasti akan terlepas semua. Bagaimana mungkin pihak
sekolah masih membiarkan bangku ini di kelas? Apa bagi mereka ini masih layak
pakai? Apakah masih kurang sumbangan tahunan yang dibayarkan siswa agar
setidaknya sekolah bisa membeli satu bangku kayu yang baru? Payaaaah…
Aku bangkit
dari bangku reyot itu dan mulai menariknya menuju belakang kelas. Aku berencana
untuk menukarnya dengan kursi paling belakang, toh di sana belum ada yang
menempati. Setelah dilihat-lihat, kondisi kursinya pun masih jauh lebih bagus
dari pada yang ku punya. Jadi kutarik kursi baru itu dan ku ganti dengan kursi
reyot yang ku bawa. Tapi, belum sempat ku beranjak, tiba-tiba langkahku
terhenti karena seseorang memegang kursi itu dan mencegahku untuk membawanya.
“Aish, ini
bangkuku. Jangan dibawa!”, sambil memegang kursi itu.
“Bangku
kamu? Sejak kapan? Ini bangku sekolah”.
“Kembalikan
bangku itu ke tempat semula”, sambil melihatku tajam.
“Bukannya
tadi kamu duduk di depan? Bangku ini kan kosong, jadi boleh dong aku tukeran
bangku?”
“Kubilang
kembalikan!”, sambil menarik bangku itu hingga terlepas dari jangkauanku.
“Astaga. Kamu
kan sudah duduk di depan. Jadi duduk aja di depan. Di sini masih kosong jadi
aku mau menukar bangkunya sama bangku ku ini. Kamu ga liat apa bangku ku reyot
gini?” sahutku protes.
“Aku
pindah ke sini. Aku males duduk di depan sampingan sama kamu.
Ti-dak-me-ngun-tung-kan”, jawabnya tajam.
“Apa????
Aiiiisssh, dasar..!!”
Aku
benar-benar kesar. Aku segera beralih sambil menyeret bangku reyot itu kembali
ke meja ku, tanpa memandangn si bocah tengik itu sedikit pun. Aku menataletakkan
bangku reyot di mejaku, sambil menggumam, memprotes tindakannya.
“Memangnya
kelas ini punya dia apa? Atau sekolah ini punya kakek buyutnya? Aiissh,
menyebalkan sekali. Ga bisa apa sekali-sekali mengalah sama anak cewek? Masa
besok aku beneran bawa paku dan palu untuk memperbaiki bangku ini. Aissshhh… dasar
Hafiz menyebalkan. Ga ada dewasa-dewasanya. Selalu saja seenaknya. Mentang-men-tang…
Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!”
Aku
menjerit dan langsung bangkit dari bangku lalu mengibas-ngibaskan tanganku ke
segala arah. Geli, jijik, dan kurasakan tubuhku gemetar. Mantap. Binatang
kecil, bersayap, dan berwarna coklat itu berhasil membuatku jantungan di pagi
ini. Bagaimana tidak, satu keluarga kecoa ada di dalam laciku. Ada tiga ekor,
mungkin ayah, ibu, dan anaknya. Mereka beranak pinak di situ. Seorang siswa
yang tak bertanggungjawab pasti telah membuatkan mereka rumah yang sangat
nyaman bagi mereka dengan meninggalkan banyak sekali sampah di laciku.
Lihatlah, karena kecoa ini aku membuat teman satu kelasku tertawa
terbahak-bahak. Dan selamat, mulai sekarang aku akan menjadi bahan lelucon
mereka. Huh, kesal.
Aku
memukul-mukul mejaku, memastikan bahwa kecoa di dalam laci sudah habis. Lalu
aku keluarkan semua kertas, plastik, kemasan snack, dan segala benda aneh yang
ada di dalamnya. Akhirnya satu bak sampah penuh dengan sampah-sampah penyebab
kecoa itu beranak pinak.
Kulirik
jam yang ada di tanganku. Masih ada waktu sekitar lima menit sebelum lonceng
berbunyi. Aku beranjak meninggalkan kelas untuk membuang sampah ke tempat
pembuangan akhir yang ada di belakang sekolah. Jaraknya lumayan jauh, tapi jika
aku bergegas, aku tidak akan telat masuk kelas. Aku tidak mungkin membiarkan
bak sampah ini penuh karena bu guru pasti akan menegur seluruh kelas nantinya.
Sekolah
ini tidak terlalu luas. Halamannya pun hanya sebesar dua kali lapangan basket.
Hanya saja rute yang aku lalui untuk menuju pembuangan akhir sangat jauh.
Tempatnya berada di paling ujung sekolah. Seandainya hukum phytagoras dapat
digunakan di situasi seperti ini, mungkin aku tidak perlu berjalan menyusuri
lorong-lorong kelas.
Aku tidak
begitu suka berjalan di lorong ketika ada banyak siswa di luar kelas. Aku tidak
memiliki kepercayaan diri untuk tampil di hadapan mereka semua. Sekolah ini
penuh dengan anak-anak elit. Dilihat dari pakaiannya dan semua barang yang
mereka bawa ke sekolah, sudah menunjukkan bahwa itu adalah barang-barang mewah
dan mahal. Aku tidak habis pikir, sebenarnya apa tujuan mereka memakai hal semacam
itu. Apakah mereka pikir sekolah ini fashion
show? Apakah mereka tidak takut diculik setelah pulang sekolah?
Kelakuan
mereka yang seperti itulah yang membuat ada nya jurang pemisah antara siswa
kaya dan miskin. Banyak anak-anak susah sepertiku merasa minder untuk berteman dengan mereka. Gaya hidup yang
juga mempengaruhi gaya bicara mereka, sering membuat kami malu. Tak terkecuali
aku. Memang, aku hanya memakai baju yang sudah ditambal sulam karena sudah
sobek beberapa kali. Aku juga memakai sepatu yang sudah berapa kali dilem, dan
aku memakai tas yang talinya hampir putus. Hanya dengan melihat siswa miskin
yang melintas sekilas, pasti akan menjadi bahan perbincangan mereka. Bajunya, sepatunya,
tasnya, atau apapun yang bisa mereka bandingkan. Aiiisshh, apa yang mereka
pikirkan. Bukankah barang mewah itu juga hanya pembelian orangtuanya?
Sejatinya, mereka pun hanya orang miskin sejak lahir.
* * *
Aku
mempercepat langkahku dan bergegas melempar kantong sampah ke tempatnya. Aku
mulai beranjak meninggalkan tempat itu. Baru dua tiga langkah aku berjalan,
langkahku terhenti. Tiba-tiba, ada yang memanggil namaku.
“Mutia”
Aku
langsung berpaling ke arah suara itu. Aku merasa bahwa suara itu berasal dari
pembuangan sampah atau mungkin dari dalam toilet. Aku mencoba mendekati dan
mengitari pembuangan sampah itu. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Aku
memberanikan diri untuk melihat lebih dekat toilet yang terlihat angker itu.
Tapi di sana juga tidak ada siapa-siapa. Aneh.
“Mungkin
aku salah dengar.”
Aku berpaling
dan mulai beranjak pergi. Tapi, tiba-tiba suara itu kembali terdengar.
“Mutia”
Aku
langsung berpaling ke arah toilet. Aku yakin bahwa suara yang memanggilku
berasal dari sana. Tapi lagi-lagi, tidak ada siapa-siapa di sana. Aku
membayangkan yang tidak-tidak, fikiranku menjadi tidak jernih. Mungkinkah yang
memanggilku adalah hantu penunggu toilet itu? Tidak, tidak mungkin. Hantu itu
tidak ada. Aku tidak percaya. Tapi siapa yang memanggilku? Tidak ada
siapa-siapa di sana. Aku habis akal, entah siapa atau apa yang memanggilku.
Nafasku
mulai tidak beraturan. Jantungku berdetak semakin kencang. Aku gugup, gemetar,
dan kakiku merasa lemas sekali. Aku berusaha berjalan dan menjauh dari sana.
Berjalan perlahan dan akhirnya aku bisa berlari menuju koridor kelas. Saat
melewati pintu kelas XII IPS 1, ada seorang siswa yang tiba-tiba keluar dan
hampir saja ku tabrak karena saking cepatnya aku berlari.
“Woi,
woi, santai, De”, kata siswa itu sambil menahan lenganku karena aku mulai oleng
akibat berhenti mendadak.
“Maaf kak,
maaf. Saya ga sengaja”, sahutku sambil membungkukkan kepala dan badanku sebagai
bentuk permohonan maaf.
“Iya
gapapa. Lain kali hati-hati ya, De. Gau sah lari-lari kayak anak kecil gitu”
katanya menasehati.
“Iya Kak,
sekali lagi maaf. Saya permisi dulu” pintaku pamit.
“Iya,
hati-hati”, sahutnya sambil tersenyum.
Astaga,
apa-apan sih aku tadi. Hampir aja aku menabrak Kak Gofar, si ketua OSIS yang
pintar, ganteng, baik, dewasa, dan murah senyum itu. Dia selalu mendapat
rangking satu di kelas. Dalam berorganisasi, dia selalu suka mendengarkan
pendapat teman-temannya dan menerima kritikan dengan baik. Dia tidak pernah
marah jika usulannya ditolak atau ada kritikan pedas setelah acara OSIS
berlangsung. Dia selalu menjadikan itu semua sebagai pelajaran dan menyemangati
teman-temannya agar berusaha lebih baik lagi. Akhirnya terbukti bahwa kegiatan
demi kegiatan, hasilnya semakin dikritik positif dari pihak sekolah. Tidak
heran jika tahun ini dia kembali terpilih menjadi ketua OSIS untuk kedua
kalinya, meski dia juga sudah harus lebih fokus menghadapi ujian kelulusan
tahun ini.
Tentunya
karena Kak Gofar cukup ganteng, akhirnya banyak sekali siswi-siswi yang naksir
dia. Tidak hanya teman sekelas, tapi juga adik kelas dan kakak kelas, teman
seorganisasi maupun diluar organisasi. Apalagi kalo lagi pas Hari Valentine,
dialah siswa yang paling banyak dapat coklat dan bunga. Hal itu sering membuat
teman-temannya iri. Namun dia sering menolak secara halus karena katanya dia
tidak merayakan hari semacam itu. Mungkin karena ajaran agama di keluarga
sangat melekat didirinya dan hal itu membuat siswi-siswi lain semakin memuja
dirinya.
Bayangkan
saja jika tadi aku berhasil membuatnya terjatuh, bisa saja kan bajunya jadi kotor
atau dahinya berdarah. Bisa-bisa aku dipukuli siswi satu sekolah. Ya ampun,
ceroboh sekali. Aku bahkan merasa malu sekali saat dia menasehatiku dan
mengatakan kalau aku seperti anak kecil. Ditambah lagi, ada beberapa sorot mata
yang melihat ke arah kami berdua tadi. Seperti ada pasukan burung elang yang
sedang bersiap-siap menerkam anak ayam. Sungguh menakutkan, bahkan lebih
menakutkan dari pada suara yang memanggilku tadi.
Oiya,
suara itu. Aku teringat dengan suara itu. Benarkah ada yang memanggilku tadi?
Tapi siapa yang memanggilku? Perempuankah? Atau laki-laki kah? Entahlah,
suaranya samar-samar. Aku pun tidak melihat siapa-siapa. Mungkinkah aku hanya
menghayal karena aku terlalu takut dengan toilet angker itu.
Karena
aku memikirkan banyak hal, tak sadar aku berjalan terlalu lamban. Bel berbunyi
3 kali, menandakan jam pelajaran telah dimulai. Aku bergegas dan mempercepat
langkah menuju kelas. Di depanku sudah ada Bu Endang, guru wali kelasku, sedang
berjalan menuju kelasku juga. Aku tak mungkin mendahului langkahnya dan
akhirnya aku hanya bisa mengiringinya dari belakang. Namun ketika sampai di
depan pintu kelas, beliau berpaling dan menyadari bahwa aku di belakangnya.
“Silakan
masuk duluan”, ujar Bu Endang padaku.
“Baik,
Bu”, sahutku.
Aku
langsung berjalan cepat menuju bangkuku. Lita langsung berbisik padaku.
Aku
langsung merapikan posisi dudukku, lalu menghadap ke depan, atau lebih tepatnya
menghadap meja Bu Endang.
“Akhirnya kalian sudah kelas XI. Sudah setahun
kalian bersekolah di sini. Mungkin ada yang kembali terkumpul dalam satu kelas
dan mungkin ada pula yang tidak. Seperti Lita, Lisa, dan Heru kalian sekelas
lagi kan? Ridho, mungkin kamu saja sendiri di sini yang dari kelas X-5?” Tanya
Bu Endang.
“Iya,
Bu”, sahut mereka serempak.
“Tidak
apa-apa. Intinya adalah tidak masalah kalian masih sekelas atau tidak. Yang
terpenting adalah kalian sekarang sudah satu kelas, kalian telah menjadi
keluarga baru, sahabat baru, teman baru bagi kalian semua. Kalian harus saling
menghormati, menjaga, menasehati, dan peduli satu sama lain. Kalian boleh
bersaing dalam hal positif, dalam hal pelajaran, tapi dengan cara yang sehat
tentunya. Jangan pernah bertengkar apalagi membuat keributan. Jika ada
kesalahpahaman di antara kalian, bicarakanlah dahulu satu sama lain secara
baik-baik. Jika tidak ada titik temu, bicarakanlah pada ibu, pasti akan ibu
bantu meluruskan. Boleh tidak tegur sapa maksimal selama 3 hari, dengan tujuan
menjernihkan fikiran dan menenangkan suasana. Tapi ingat setelah itu bicarakan
lagi dan berbaikanlah. Paham?” kata Bu Endang.
“Paham,
Bu”, sahut kami serempak.
“Waduuuh,
mantap kata-kata Bu Endang”, ujar Izul menambahi.
“Hahaha..
Terima kasih Izul. Tapi yang membuat mantap bukan kata-katanya tapi pemahaman
kalian akan kata-kata ibu yang baru ibu ucapkan tadi. Kalian kan sudah bukan
anak-anak lagi, kalian adalah remaja yang mulai beranjak dewasa. Seumuran
kalian ini rentan dengan hal-hal yang bersifat persaingan. Karena itu ibu
ingatkan mulai sekarang dan semoga hal ini selalu kalian ingat dan tekankan
baik-baik. Mengerti?” tambah Bu Endang.
“Mengerti,
Bu”, sahut kami sambil bertepuk tangan.
Suasana
kelas pun berubah menjadi ramai dan lebih santai.
“Sudah,
sudah. Sekarang ibu ingin kalian berdiskusi untuk menyusun organisasi
kepengurusan kelas XI IPA 1. Dimulai dari Ketua Kelas, Wakil Ketua Kelas, dan
lainnya. Tapi sebelum itu, mungkin lebih baik kalian saling memperkenalkan
diri. Silahkan, dimulai dari Nina”, kata Bu Endang sembari melihat siwa yang
ada di paling ujung.
“Nama saya Nina Febriani, biasa dipanggil
Nina. Saya lahir di Amuntai, 17 Februari 1991. Rumahku di Griya Permata No. 3A
Martapura. Saya anak tertua dari tiga bersaudara. Saya berasal dari kelas X-2.
Salam kenal”, kataku singkat.
“Bagus
Nina. Tapi tidak perlu menyebutkan asal kelas. Ibu tidak ingin ada sukuisme
nanti di sini. Yang lain juga ya. Sekarang lanjut Vita, kemudian Rio, dan
begitu seterusnya”, kata Bu Endang sambil tersenyum.
Benar
kata Bu Endang, tidak perlu lagi menyebut asal kelas. Nanti justru menimbulkan
sukuisme berdasarkan asal kelas. Hal ini juga akan lebih parah lagi jika siswa
terbanyak yang berasal dari satu kelas yang sama merasa bahwa golongan mereka
adalah yang siswa yang paling pintar dan yang paling berkuasa di kelas ini.
Perbedaan kekayaan saja sudah cukup nampak di kelas ini, tak perlu lagi
ditambah dengan sukuisme asal kelas. Ah, Tidak. Semoga ini hanya kekhawatiranku
semata.
Vita lalu
langsung berdiri memperkenalkan diri. Belum selesai perkenalan yang
dilakukannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas.
“Permisi,
Bu. Maaf mengganggu sebentar.”
Ternyata
Pak Opick yang mengetuk pintu itu, Pak Sekuriti sekolah kami yang badannya
sangat subur, mungkin sesubur artis Ivan Gunawan. Pak Opick membawa pesan untuk
Bu Endang dari Pak kepala sekolah. Bu Endang langsung menghampiri Pak Opick dan
berbicara sebentar. Entah apa yang mereka bicarakan, suara mereka terlalu pelan
untuk kami dengar. Sesaat kemudian, Bu Endang memberikan instruksi ke kami.
“Teruskan
perkenalan kalian, Ibu mau keluar sebentar. Ingat, jangan ribut.”
“Baik,
Bu”, sahut kami serentak.
Vita lalu
melanjutkan perkenalan dirinya. Kemudian disusul dengan Rio, lalu teman
sebelahnya, dan begitu seterusnya. Aku tidak terlalu memperhatikan dan
mendengarkan perkenalan mereka. Sulit bagiku mengingat banyak hal dalam satu
waktu. Memang, dari dulu kelemahanku adalah menghapal. Jangankan menghapal nama
panjang mereka, nama panggilan mereka saja belum tentu dapat aku ingat semua.
Hingga sampai pada giliran si rangking satu, Lisa, yang membuatku tertarik untuk
mendengarkan lebih seksama dan mengenalnya lebih jauh.
“Nama
saya Lisa Dwi Sagita, panggil saja Lisa. Saya anak kedua dari dua bersaudara.
Saya lahir di Kandangan, 9 Januari 1991. Saya tinggal di Jalan Cempaka No 7C
Martapura. Salam kenal” kata Lisa.
Ucapannya
tegas, nyaring dan penuh rasa percaya diri. Hampir semua siswa-siswa di kelas
ini tertegun mendengarnya. Dia bagaikan memiliki aura yang dapat menghipnotis
kami semua.
“Lisa Dwi
Sagita ya, Jalan Cempaka ya”, gumamku.
Jalan
Cempaka merupakan salah satu halan di kota Martapura. Jalan ini terkenal karena
komplek perumahan di sana adalah komplek perumahan elit. Orang-orang yang
tinggal di sana pun adalah orang-orang pilihan kota ini. Bupati, pejabat
pemerintah, pengusaha, dan orang-orang sukses lainnya. Jika kau sesekali
melewati jalan itu, kau akan merasa seperti sedang berkunjung ke inggris. Tidak
hanya karena semua rumah yang ada di sana megah dan mewah, tapi tatanan
kompleks itu sungguh sangat tertata dan modern. Sejak kecil, aku sudah
berangan-angan untuk tinggal di sana suatu hari nanti. Entah kapan akan
terwujud, hingga sekarang aku masih mendiami rumahku yang kecil dan sesak itu.
* * *
Perkenalan
dilanjutkan oleh siswa yang ada di sebelahnya. Siswa laki-laki yang pagi tadi
mengejekku. Tubuhnya tinggi, tidak kurus dan tidak juga gemuk, berkulit agak
coklat, berhidung mancung, dan aku akui dia cukup manis. Hanya saja dia sangat
menyebalkan. Dia mulai berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku
celana. kemudian memperkenalkan diri dengan wajah sedikit mendongak ke atas.
Aku tak
perlu mendengarkan perkenalannya. Aku tahu nama panjangnya, alamat rumahnya, berasal
dari kelas mana, berapa saudaranya, dan aku bahkan tahu dia suka makan apa dan
tidak suka makan apa. Kenapa? Karena ini adalah tahun kelima ku satu kelas
dengannya. Ya, sejak kelas 1 SMP aku selalu satu kelas dengannya. Jadi,
keributan pagi tadi bukan untuk pertama kalinya. Tapi untuk keseribusatu
kalinya. Menyebalkan. Dia tidak pernah berubah. Kelakuannya masih saja seperti
anak kelas 1 SMP.
Perkenalan
sudah hampir selesai, tapi Bu Endang belum juga datang. Kelas sudah mulai
ricuh, siswa yang memperkenalkan diri pun sudah tidak dihiraukan lagi. Bagi
siswa seumuran kami, perkenalan semacam ini terlalu monoton. Perkenalan yang
santai pada jam istirahat, atau sambil ngobrol dan bercanda pada jam kosong
seperti ini, sebenarnya lebih tepat untuk kami. Akhirnya tiba giliranku
memperkenalkan diri. Tapi karena kelas sudah terlanjur terlalu ramai, aku hanya
memperkenalkan namaku saja. Toh tidak akan ada satu siswa pun yang
memperhatikan. Semua siswa sudah sibuk dengan obrolannya masing-masing.
Rupanya
dugaanku salah. Setidaknya ada satu orang yang memperhatikanku dari tadi.
Seorang siswi yang duduk tepat di sebelah kiriku. Dia memberikan senyuman
padaku dan ku balas senyumnya. Kini adalah gilirannya untuk maju ke depan kelas.
Dia memperkenalkan diri dengan suara yang sangat lantang, yang cukup membuat
satu kelas terdiam.
“Nama
saya Lita, Lita Eka Sagita. Saya lahir di Kandangan, 9 Januari 1991. Saya anak
pertama dari dua bersaudara. Dan saya tinggal di Jalan Cempaka No 7C Martapura.
Salam kenal semuanya”, ucapnya ramah.
Senyumannya
manis, cantik, dan juga ramah. Bahkan ada yang memberikan tepuk tangan setelah
perkenalan singkatnya. Haha, sepertinya Lita punya penggemar di kelas ini.
“Wah,
pede skali kayaknya kamu. Ga ada gugup-gugupnya”, kataku pada sambil tersenyum.
“Emang
apa yang harus digugupkan? Toh cuma perkenalan sama temen sekelas, bukan
kenalan sama calon mertua. Hahahaha”, sahutnya bercanda hingga tertawa.
Dia baik
dan ramah. Dia bahkan dengan santai berbicara dan bercanda denganku. Walau
terlihat jelas aku dan dia memiliki latar belakang yang berbeda. Kemudian aku
teringat beberapa hal dan aku langsung bertanya pada Lita.
“Ngomong-ngomong,
kok nama panjang kamu sama dengan Lita sih? Trus, kalo aku ga salah ingat,
rumah kamu juga satu komplek dengan dia. Keluargaan ya?”, tanyaku penasaran.
“Oh,
itu.. hmm, aku dan Lisa kan kakak adik, kami saudara kandung. Dan kami kembar”,
jawabnya santai.
“Hah,
kembar???” jawabku kaget.
“Iya,
kenapa?” tanya Lita dengan nada heran.
“Tapi…
kalian… tidak…”
“Tidak
mirip ya? Hahahaha”, selanya. “Memang. Dan semua orang bilang begitu. Tapi kami
benar-benar kembar. Tapi tidak identik seperti kebanyakan orang”, ujarnya
sambil tersenyum.
“Ooo,
begitu ya. Memang tidak mirip sih, makanya aku ga nyangka, Lit. Hahaha”, kataku
sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Sebenarnya
tidak hanya karena wajah mereka yang tidak mirip saja yang membuatku tidak
percaya bahwa mereka kembar, tapi juga karena sifat dan pembawaan mereka yang
berbeda. Lita terlihat sangat ramah, mudah bergaul dan suka bercanda. Aku pun
tak segan pada Lita dan langsung merasa akrab dengannya. Sedangkan Lisa, hanya
dengan melihatnya saja aku sudah merasa deg-degan, ada rasa takut, segan, dan
merasa rendah di hadapannya. Atau mungkin aku merasa sangat tersaingi olehnya?
Entahlah, perbedaan mereka sungguh terasa jauh bagiku.
Perkenalan
sudah selesai, Bu Endang belum juga datang. Kelas mulai ricuh, siswa yang
memperkenalkan diri pun sudah tidak dihiraukan lagi. Bagi siswa seumuran kami,
perkenalan semacam ini terlalu monoton. Perkenalan yang santai pada jam
istirahat, atau sambil ngobrol dan bercanda pada jam kosong seperti ini,
sebenarnya lebih tepat untuk kami. Aku pun memilih berbincang-bincang dengan
Lita. menceritakan apa yang terjadi saat aku buang sampah dan kecerobohanku
yang hampir menabrak Kak Gofar.
“Hah,
beneran kamu denger ada yang manggil kamu di situ?” sahut Lita dengan nada yang
sedikit terkejut.
“Iya,
beneran”, jawabku sambil menganggukkan kepala.
“Ih,
serem banget sih. Jangan-jangan penunggu toilet angker itu?” kata Lita denga
muka yang dibuat seperti sedang ketakutan.
“Ah,
jangan nakut-nakutin gitu dong. Ntar aku ga berani buang sampah lagi”, kataku
sambil cemberut.
“Hahaha,
aku cuma bercanda. Mungkin aja kan kamu salah denger. Atau bisa juga itu suara
angin yang menggerakkan benda apa gitu yang suaranya mirip dengan kata Mutia”, terang Lita menenangkan.
“Ya, bisa
jadi sih. Aku udah parno duluan sih tadi. Makanya aku langsung lari. Apalagi
kan toilet tu katanya memang ada penunggunya. Sering ada yang lihat
bayangan-bayangan hitam gitu. Trus, hawa-hawanya emang sering bikin bulu kuduk
merinding” sahutku.
“Itu ya
memang karena toiletnya aja yang udah hitam dan kotor banget. Jelas aja ga
pernah ada siswa juga yang mau ke sana. Heran juga kenapa tu toilet ga pernah
dibersihin atau diperbaiki sekolah lagi. Padahal kalo emang ga terpakai lagi ya
dirobohkan aja. Daripada jadi sarang hantu, sarang tikus, atau sarang lumut
kaya gitu”, kata Lita nyerocos.
“Betul,
betul, betul”, kataku dengan gaya si Ipin.
“Eh, tapi
gimana sama Kak Gofar?” Tanya Lita membanting pertanyaan dengan antusias.
“Apanya
yang gimana?”, tanyaku balik.
“Ya Kak
Gofar. Dia nolong kamu kan? Trus, trus gimana?” tanya Lita antusias.
“Apanya
yang “terus” sih? Aneh aneh aja deh kamu nanyanya”, jawabku mulai bingung dan
salah tingkah.
“Ya ampun
Mutia, jarang-jarang tau ada yang bisa buat dia perhatian sama cewek. Selama
ini kan dia terkenal menjaga jarak sama cewek, cuma temenan sama cowok, kalo
pun ada cewek itu pasti teman-teman seorganisasi atau teman sekelasnya doang.
Dan ga pernah sampe pegang-pegang tangan segala”, sahut Lita nyerocos panjang
lebar.
“Ga ada
pegang-pegangan tangan, Litaaaa. Dia cuma menahan lengan aku biar aku ga jatuh
pas mau nabrak dia. Semuanya ga sengaja, kejadiannya cepat banget. Udah ah, ga
usah dibesar-besarin”, kataku menyangkal.
“Walaupun
kayak gitu, liat aja nanti pas istirahat atau pulang sekolah, pasti banyak
gossip yang beredar. Antara kamu sama si Kak Gofar. Maklum, dia kan bintang top
sekolah” goda Lita.
“Ah, cuek
aja. Emang ga ada apa-apa kok. Namanya juga ga sengaja”, kataku cuek.
“Alaaaaah,
padahal muka kamu berubah jadi tomat juga kan, tadi kan, pas nabrak Kak Goffar?
Iya kan? Hayo ngakuuu?” goda Lita lagi.
“Kaga”,
jawaku simple.
“Masa?
Siapa sih yang ga tertarik sama cowok kaya Kak Gofar gitu? Masa iya kamu ga tertarik
sama dia. Beneran?” goda Lita lagi.
“Ngawur
deh, udah ah ga usah ngomongin itu lagi” jawabku mulai kesal.
“Hihihi”,
tawa Lita centil.
“Udaaahh…
apaan sih”, kataku mulai meraju.
“Iya,
iya. Hahahaha”, jawabnya tertawa.
“Tapi kok
Bu Endang ga datang-datang ya?” kataku heran.
“Iya nih,
kok lama ya. Udah kaya pasar ni kelas” tambah Lita. “Lihat tuh, si Hafiz and the genk juga mulai lagi tuh
ribut-ribut menjahili Tian. Dasar ga ketulungan tu anak nakalnya”, geram Lita.
“Si Hafiz
itu emang kayak gitu ya kelakuannya?”, tanyaku pada Lita.
“Hooh,
dari dulu, sejak SD dia udah kayak gitu. Jahilnya kaga ketulungan”, sahut Lita
santai.
“Oh, kamu
sekelas sejak SD sama dia?” tanyaku setengah kaget.
“Iya, SD
dan SMA. Dari kelas satu sampe kelas 6 aku sekelas terus sama dia. Kalo SMA
baru ini sekelas. Jadi aku sih udah biasa ngeliatnya”, terang Lita lagi.
“Berarti
Lisa juga”, tanyaku lagi.
“Yup”,
balasnya singkat.
“Kalian
satu keluarga ya?”, tanyaku makin penasaran.
“Yup, aku
kembaran sama Lisa. Aku sepupuan sama Hafiz”, jawab Lita santai. “Ada lagi yang
ditanyakan?”
“Ooo begitu…”, sahutku mulai memahami tentang
pegustian ini. “Trus, kenapa….”
“Sssttt…
Bu Endang datang”, kata Lita menyudahi obrolan kami.
“Maaf,
lama menunggu ibu. Sudah hampir jam istirahat. Tapi sebelumnya ibu mau
perkenalkan satu anggota baru lagi di kelas ini”, kata Bu Endang setengah
terengah-engah. “Putri, silahkan masuk”.
Sesaat
kemudian, masukkah seorang siswi dengan langkah yang tegap namun santai.
Tingginya sekitar 160 cm, tubuhnya langsing, kulitnya putih, wajahnya manis dan
cantik, secantik artis ibu kota Dian
Sastro. Aku terpukau melihatnya dan ternyata hal ini tidak hanya terjadi
padaku. Seluruh kelas menjadi hening, mendadak seluruh siswa dan siswi di kelas
ini teralih perhatiannya kepada siswi baru itu. Sekilas aku juga melihat, si Hafiz
yang jahil itu, terdiam dan menatap lurus padanya. Oh, ternyata dia bisa
terpesona juga pada seseorang.
“Putri
adalah siswi pindahan dari Jakarta. Ayahnya pindah tugas ke Kabupaten Banjar.
Jadi dia mengikuti orang tuanya pindah ke Martapura dan melanjutkan sekolah di
sini. Putri, silakan perkenalkan diri kamu”, pinta Bu Endang.
“Iya, Bu.
Terima kasih”, sahut si Siswi baru itu.
“Perkenalkan
nama Saya Putri Anggun Mayangsari. Maaf, Gusti Putri Anggun Mayangsari. Saya
pindahan dari SMAN Pelita Jaya Jakarta. Saya Lahir di Martapura, 7 Juli 1991.
Saya anak tunggal, tidak memiliki saudara. Saya tinggal di Jalan Cempaka No 3B
Martapura. Salam kenal semuanya”, katanya sambil tersenyum.
Melihat
siswi baru itu tersenyum, bak sebuah hipnotis Romy Rafael, seisi kelas ikut tersenyum, membalas senyumnya. Tidak
terkecuali aku. Ya ampun, dia sungguh sangat cantik dan menawan. Dia bagai sang
putri kerajaan yang memberi titah, menebar kebaikan, dan menenangkan jiwa
rakyatnya hanya dengan lewat senyumannya yang indah. Sungguh pembawaan yang
sangat menakjubkan.
“Putri
juga siswi yang sangat pintar. Nilai rapor nya sangat bagus, hampir semua mata
pelajaran mendapat nilai sempurna. Berkenalanlah dengannya, dan bertemanlah.
Siapa tahu kalian juga bisa menjadi siswi terbaik di sekolah ini, seperti Putri
di sekolahnya dulu”, tambah Bu Endang.
“Baiklah
kalo begitu. Silakan duduk”, balas Bu Endang.
Mata kami
sempat bertemu dan kuberikan senyuman tipis padanya. Namun rupanya dia tidak
membalas senyumku. Dia justru menatapku tajam selama beberapa detik. Aku
terdiam, dan langsung mengalihkan perhatianku dan memainkan jemari tanganku. Ada
apa dengannya? Bukankah tadi dia terlihat sangat ramah? Aku hanya ingin akrab
atau setidaknya berteman dengannya. Bisa saja kan aku ketularan pintar dan
rankingku menjadi lebih bagus. Apalagi dia seorang keturunan Gusti. Bisa saja
dia melakukan yang dia mau kepada semua yang ada di kelas ini, terutama
kepadaku.
Gusti,
sebuah gelar yang diberikan kepada keturunan Kerajaan Banjar. Sejak zaman
dahulu, para Gusti selalu dihormati dan disegani masyarakat Martapura,
Kabupaten Banjar. Seorang Gusti kebanyakan memiliki sifat yang luhur, bersikap
baik dan seorang muslim yang taat. Bahkan konon katanya, beberapa Gusti
dianugerahi beberapa kemampuan spiritual yang tinggi. Entah benar atau tidak.
Hal inilah mungkin yang membuat Bupati Kabupaten Banjar saat ini telah terpilih
utnuk kedua kalinya karena beliau seorang Gusti yang dikenal arif nan
bijaksana. Tapi benarkah itu? Kita lihat saja. Yang jelas, untuk satu tahun ke
depan, aku akan sekelas dengan Putri yang ternyata seorang Gusti.
* * *
(bersambung...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar