Minggu, 18 Oktober 2015

HUKUM DASAR KIMIA



Dalam mempelajari kimia, kita akan dipertemukan dengan istilah Stoikiometri, yaitu cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi zat kimia dan reaksinya. Pada kesempatan ini, akan dibahas mengenai hubungan kuantitatif unsur-unsur dalam senyawa dan persamaan reaksi kimia, yang lebih dikenal dalam istilah Hukum Dasar Kimia & Stoikiometri.

PETA KONSEP
 A.      Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)

 Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) seorang ahli kimia berkebangsaan Perancis telah menyelidiki hubungan massa zat sebelum dan sesudah reaksi. Lavoisier menimbang zat-zat sebelum bereaksi kemudian menimbang hasil-hasil reaksinya. Ternyata massa zat sebelum dan sesudah bereaksi selalu sama. 
Pada tahun 1779, Lavoisier melakukan penelitian dengan memanaskan 530 gram logam merkuri dalam suatu wadah yang terhubung dengan udara dalam silinder ukur dalam suatu wadah tertutup. Volume udara dalam silinder ternyata berkurang sebnyak 1/5 bagian, sedangkan logam merkuri berubah menjadi calx merkuri (oksida merkuri) dengan massa 572,5 gram. Artinya telah terjadi kenaikan massasebesar 42,4 gram. Besaran kenaikan massa merkuri sebesar 42,4 gram adalah sama dengan 1/5 bagian udara yang hilang yaitu oksigen.

 
 Lavoisier kemudian mengambil kesimpulan yang dikenal dengan Hukum Kekekalan Massa, yaitu: 





B.      Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)
       Ada berbagai senyawa yang dibentuk oleh dua unsur atau lebih. Sebagai contoh air (H2O). Air dibentuk oleh dua unsur yaitu hidrogen dan oksigen. Materi mempunyai massa, termasuk hidrogen dan oksigen. Bagaimana kita mengetahui massa unsur hidrogen dan oksigen yang terdapat dalam air? Seorang ahli kimia Perancis yang bernama Joseph Louis Proust (1754-1826) mencoba menggabungkan hidrogen dan oksigen untuk membentuk air.
Massa Hidrogen yang Direaksikan (g)
Massa Oksigen yang Direaksikan (g)
Massa Air yang Terbentuk               (g)
Sisa Hidrogen atau Oksigen                   (g)
1
8
9
-
2
8
9
1 g Hidrogen
1
9
9
1 gram Oksigen
2
16
18
-
        Dari tabel di atas terlihat bahwa setiap 1 gram gas hidrogen bereaksi dengan 8 gram oksigen menghasilkan 9 gram air. Hal ini membuktikan bahwa massa hidrogen dan massa oksigen yang terkandung dalam air memiliki perbandingan tetap yaitu 1:8, berapapun banyaknya air yang terbentuk. Dari percobaan yang dilakukan, Proust mengemukakan teorinya yang terkenal dengan sebutan Hukum Perbandingan Tetap, yang berbunyi: 
  
C.      Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton)
 Hukum Proust dikembangkan lebih lanjut oleh para ilmuwan untuk unsur-unsur yang dapat membentuk lebih dari satu senyawa. Salah seorang diantaranya ialah John Dalton (1766-1844). Dalton mengamati adanya suatu keteraturan yang terkait dengan perbandingan massa unsur-unsur suatu senyawa.
Pada percobaan pertama, 1,33 gram oksigen direaksikan dengan 1 gram karbon. Reaksi ini menghasilkan 2,33 gram karbon monoksida. Selanjutnya pada percobaan kedua, massa oksigen diubah menjadi 2,66 gram sementara massa karbon tetap. Reaksi ini menghasilkan senyawa berbeda, yaitu karbon dioksida.
Jenis Senyawa
Massa Karbon yang Direaksikan           (g)
Massa Oksigen yang Direaksikan (g)
Massa Senyawa yang Terbentuk      (g)
Karbon monoksida
1,33
1,00
2,33
Karbon dioksida
2,66
1,00
3,66
 Dengan massa oksigen yang sama ternyata perbandingan karbon dalam senyawa karbon monoksida dan karbon dioksida merupakan bilangan bulat dan sederhana. Hukum Kelipatan Perbandingan (Hukum Dalton) berbunyi:
 D.      Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay Lussac)
 
 Pada awalnya para ilmuwan menemukan bahwa gas hidrogen dan bereaksi dengan gas oksigen membentuk air. Perbandingan volume gas hidrogen dan oksigen dalam reaksi tersebut tetap, yaitu 2:1. Kemudian di tahun 1808, ilmuwan Perancis Joseph Louis Gay Lussac, berhasil melakukan percobaan tentang volume gas yang terlibat pada berbagai reaksi dengan menggunakan berbagai macam gas.
Percobaan
Volume Gas Oksigen yang Direaksikan  (L)
Volume Gas Oksigen yang Direaksikan (L)
Volume Uap Air yang Dihasilkan     (L)
1
1
2
2
2
2
4
4
3
3
6
6
 Menurut Gay Lussac, 2 volume gas hidrogen bereaksi dengan 1 volume gas oksigen membentuk 2 volume uap air. Pada reaksi pembentukan uap air, agar reaksi sempurna, untuk setiap 2 volume gas oksigen, menghasilkan 2 volume uap air. Beberapa percobaan yang pernah dilakukan Gay-Lussac dirangkum sebagai berikut.


Dari percobaan tersebut, Gay-Lussac merumuskan Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay-Lussac) yang berbunyi:



E.      Hipotesis Avogadro
 Untuk menjelaskan Hukum Gay-Lussac di atas, maka pada tahun 1811, Amadeo Avogadro (1776-1956) yang berasal dari Italia melakukan beberapa percobaan. Para ilmuwan sebelumnya belum dapat menjelaskan mengapa perbandingan volume gas dalam suatu reaksi selalu bilangan sederhana. Ketidakmampuan Dalton disebabkan karena dia menganggap bahwa partikel unsur selalu berupa atom tunggal (monoatomic). Menurut Avogadro, partikel unsur tidak selalu berupa atom tunggal (monoatomik), tetapi berupa 2 atom (doatomik) atau lebih (poliatomik). Avogadro menyebutkan partikel tersebut sebagai molekul.

Dari sini Avogadro mengajukan hipotesisnya yang dikenal dengan Hipotesis Avogadro yang berbunyi: 
Jadi, perbandingan volume gas-gas itu juga merupakan perbandingan jumlah molekul yang terlibat dalam reaksi. Dengan kata lain perbandingan volume gas-gas yang bereaksi sama dengan koefisien reaksinya. Hipotesis Avogadro ini pada akhirnya dapat menjelaskan hukum perbandingan volume dan sekaligus dapat menentukan rumus molekul berbagai unsur dan senyawa. 
Hubungan Mol, Jumlah Partikel, dan Volume
Hubungan antara mol, jumlah partikel, dan volume gas pada keadaan standar (STP, Standard Temperature and Pressure atau 0oC, 1 atm) sebagai berikut.
 
Persamaan Gas Ideal
 

dengan :          P = tekanan gas (atm)
                        V = volume gas (L)
                        n = mol gas (mol)
                        R = 0,082 L atm/mol K
                        T = suhu mutlak (K)


Jika pada T dan P tertentu terdapat dua jenis gas, maka berlaku:



 

dengan :          n1 , n2   =  mol gas 1 dan mol gas 2
                        V1 , V2   =  volume gas 1 dan volume gas 2








Oleh: Mutia Hafiza 

Referensi: 
Ir. Omang Komarudin. 2013. Pocket Book KIMIA SMA kelas 1, 2, & 3. Penerbit CMedia, Jakarta.

 
Zona Siswa, 2014. Hukum Dasar Kimia <www.zonasiswa







 
.com/2014/09/hukum-dasar-kimia.html?m=1
>. Diakses tanggal 18 Oktober 2015.

Carl, Sagan. Mengenal Hukum Hay-Lussac dan Hipotesis Avogadro. Indonesiaindonesia.com